Laman

Tampilkan postingan dengan label Fiktif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiktif. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 September 2017

Aku dan Kisahku

Suara soak burung yang berkecimbung di langit berwarna orange, saat aku sedang menaruh kepalaku di atas meja tua yang sudah usang di sebuah kamar kecil yang menjadi istana kecilku dirumah ini. Bagiku, tidak ada hal yang lebih menyenangkan selain duduk menatap ke luar jendela dan menikmati indah nan sejuknya aroma khas musim gugur. Tidak jarang, para dedaunan itu datang dan memasuki istana kecilku. Seketika aku terlintas aku membuka sebuah laci dan aku menemukan sebuah kotak kecil berwarna putih. Akupun mengambil, dan aku tidak tahu apa yang harus kulakukan selain menghela nafas "Hmph.. kotak ini.." sebuah kotak hadiah yang seharusnya sudah ku berikan kepada Dave, saat ia berulang tahun 2 minggu yang lalu. Ya, Dave adalah sahabat sekaligus orang yang kusukai. Kami sudah berteman sejak kecil, dan satu-satunya alasan mengapa kami masih berteman adalah kedua orang tua kami.

Berulang kali aku terluka dengan diriku sendiri. Berulang kali, aku membenci diriku sendiri. Aku benci saat aku menyadari bahwa aku telah  mempunyai sebuah rasa yang lebih. Rasa dari sepasang sahabat.

Aku pun meraih sebuah telepon gengam, lalu menarik nafas panjang. Aku mencoba menghubungi seseorang. Dave orangnya.
"Janet? Ada apa?" Ucap Dave saat menerima teleponku. "Tidak.. apa yang sedang apa kau lakukan? Apa kau sedang sibuk?"
"Aku hanya sedang mengurus Cody, anjing kecil kesayangan adikku. Dia sedang ada urusan jadi dia meminta tolong kepada ku untuk mengurusnya." Jelas Dave. "Bisakah setelah kau mengurus Cody, kita bertemu di taman?" "Boleh saja.." jawab Dave, mengiyakan permintaanku. "Sebentar lagi aku selesai, dan setelah itu aku akan segera kesana." Lanjut Dave. "Baiklah aku akan menunggumu."

Akupun segera bersiap. Cuaca yang sejuk namun sedikit dingin memutuskanku untuk menggunakan sweater merah kesayanganku sebagai baju atasanku, dan menggunakan rok hitam lebar selutut dipadu dengan tas slempang juga dengan sepatu flat shoes. Tidak lupa, aku juga membawa kotak hadiah yang akan aku berikan kepada Dave.
Sebelum aku benar akan menghampiri Dave ditaman, aku mampir ke sebuah toko kelontong untuk dapat menghiasi kotak polos berwarna putih itu.


Aku pun segera datang dan mengampirinya. ”M.. ma.. maaf aku terlambat datang.” Aku pun segera meminta maaf dengan nafas yang masih terengah-engah. “Kau pikir, aku sudah berapa lama berada disini? Aku sudah menunggumu sudah sejak tadi.” Protes Dave. “ya.. ya maaf.”  “Apa kau tahu, aku sudah berada disini sejak 5 menit yang lalu?” Dengan santainya Dave membanggakan dirinya yang hanya datang 5 menit lebih awal. Aku pun langsung menggelitik perutnya, yang menjadi titik kelemahan Dave dan kami pun tetawa bersama. 

Aku duduk disebelah Dave. “Jadi, ada apa?” Ucap Dave. Aku pun menyerahkan sebuah kotak putih dengan balutan pita yang berwarna biru muda, warna kesukaan Dave “Selamat ulang tahun, Dave.” Dia pun menatapku dan tersenyum lebar, kegembiraan seperti seorang anak kecil yang baru saja mendapat sebuah kado. Senyuman manis yang bisa membuat setiap wanita dapat meleleh ketika melihatnya. Begitu-lah yang diucapkan oleh teman-teman wanitaku tentang Dave, awalnya aku tidak setuju. Tapi begitu aku perhatikan, aku benci mengatakan bahawa aku setuju dengan apa yang mereka katakan tentang Dave. "Maaf aku terlambat mengatakannya dan maaf aku tidak datang saat acara waktu itu.” Lanjutku. Tidak tahan dengan senyuman Dave, aku pun segera berdiri “Kupikir itu saja.. aku akan pulang dan..” tiba-tiba Dave menahan tangan ku. Aku pun spontan ingin melepaskannya secara perlahan tapi dia menahannya lebih erat. “Apa kau sibuk?” tanya Dave. “hmm, tidak..” “Kalau begitu, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat.” Dia pun berjalan lebih dulu, tanpa melepaskan gengaman tangannya.  “hey.. tidak bisakah, kau melepaskan tanganmu? Aku yakin kau juga pasti tidak ingin membuat orang-orang yang melihat kita menjadi salah faham bukan?” Aku tahu dia mendengarnya. Tapi dia tidak menjawab, dan mengabaikan apa yang aku katakan. Sering kali aku mencoba melepaskan gengamannya dan beberapa kali aku pun berhasil saat dia tidak menyadarinya, tapi dia pun melakukannya kembali. Harus kuakui,benar tangannya yang lebar membuat gengaman tangannya begitu hangat dan begitu nyaman. Tapi aku juga tidak ingin dia mengetahui aku menyukainya.

“Kita sampai..” Ucap Dave, dia pun melepaskan tanganku. Seketika aku merindukan gengamannya yang hangat itu. Aku pun melihat sekeliling dan baru menyadari dia membawa ke sebuah event festival tahunan yang sudah lama aku ingin kunjungi. Aku pun langsung melihat kearahnya dan tersenyum lebar. “Pilihanku tidak salah, bukan?” Ujar Dave sambil mengangkat satu alisnya. “Ba.. bagaimana kau tahu, aku ingin kesini?” “Hmm.. Insting.” Aku hanya tertawa mendengar jawaban yang dilontarkan oleh Dave. Sejujurnya aku pun tidak yakin dengan jawaban tersebut. Tapi aku tidak peduli.

Festival tersebut begitu ramai dikunjungi oleh pengunjung.  Tetapi kami pun tetap menikmati acara tersebut. Kami pun datang dan mengunjungi hampir satu per satu stand yang ada disana. Tanpa aku sadari, aku melihat banyak orang yang memakan permen kapas dan aku melihat peristiwa seorang anak perempuan yang sedang merengek kepada ibunya untuk dibelikan permen kapas dan tanpa banyak basa basi, sang ibu pun mengambulkan permintaan sang anak. Akupun termenung dan tersenyum melihat anak tersebut, memikirkan sebuah kejadian yang hampir serupa yang pernah aku lakukan dulu. Membuatku semakin merindukan manisnya lelehan permen tersebut. Akupun segera berbalik badan “Dave.. ayo temani aku membeli per..” Belum selesai dengan ucapanku, akupun baru menyadari dia sedang berdiri dengan 2 permen kapas yang aku inginkan. “Ini..” dia menyodorkan 1 permen kapas yang ada ditangannya. “Ini yang kau inginkan bukan?”  Aku pun tersenyum sambil memicingkan mata, seolah tidak percaya dengan apa yang dilakukannya untukku. “Kau melihat  orang-orang yang memegang permen kapas, seperti orang yang ingin merebut makanan mereka. Apa kau tidak menyadarinya? Bagaimana jika orang lain melihatnya juga?” Aku pun tertawa geli mendengar pernyataan yang Dave katakan tentang diriku.

Kamipun melanjutkan petualangan kami di festival tersebut, sambil menyantap permen kapas layaknya seperti kekasih. Tapi 1 hal yang salah, hubungan kami tidak lebih dari sepasang sahabat.
Puncak acara pun tiba. Kembang api yang begitu indah pun mewarnai langit gelap yang hanya dipenuhi oleh bintang kecil yang berkelap kelip. Semua orang pun langsung tertuju pada indahnya letusan kembang api tersebut. Begitu pun aku dan Dave. Kamipun langsung menatap langit indah tersebut. “Janet..” Ucap Dave memanggil namaku. “ Ya?” membuat menjadi berhadapan dengannya.  Davepun sedikit membungkuk dan wajahnya sedikit mendekat disertai dengan senyuman khas, membuat aku begitu berdebar kencang.  Seolah semua ini  tampak tidak nyata dan hanya sebuah mimpi. Tapi 1 hal yang aku tahu, ini nyata. Dibawah letusan kembang api, dia mengucapkan sebuah kalimat dengan perlahan. “Jadi-lah pacarku.. Janet.”


Resensi Buku Non Fiksi ADVANCED LEARNING GEOGRAPHY 2

Haii.. Kali ini saya ingin memperkenalkan sekaligus meresensi tentang salah satu buku yang berjenis non fiksi. Yuk langsung aja!! Id...